Arinda mengelap keringat yang menetes dari keningnya. Ia melirik arloji di pergelangan tangan kirnya, pukul 16.00 WIB. Itu berarti sudah waktunya untuk ia pulang ke rumah setelah berkeliling menjual bakpau. Namanya Arinda, masih duduk di bangku kelas tujuh SMP. Setiap pulang sekolah, ia keliling perumahan menjualkan bakpau buatan bunda-nya. Dulunya, Arinda dan keluarganya termasuk keluarga yang sangat bercukupan, tetapi semenjak ayah di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja tiga tahun lalu, pendapatan keluarganya jadi sangat menurun. Walau ayah sudah berusaha membuat usaha rumah makan, itu juga tidak banyak membantu. Akhirnya, Arinda bersama bunda dan Rizka–adiknya, memutuskan membuat bakpau dan menjualkannya dengan berkeliling perumahan tempat merek tinggal. Mereka biasa berjualan setelah Arinda dan Rizka selesai bersekolah.Kebetulan hari ini Arinda hanya berjualan sendiri karena Rizka sakit dan bunda harus merawatnya.
Arinda memutuskan beristirahat sejenak di taman perumahan sebelum pulang ke rumah. Kemudian, ia membuka tas sekolahnya dan mengambil surat yang tadi dibagikan saat istirahat. Arinda membacanya dengan seksama. Ternyata, itu surat pemberitahuan kalau 21 April nanti atau dua minggu lagi akan diadakan Festival Hari Kartini, salah satu lombanya adalah Parade Kostum.
“Ah, aku ingin ikut Parade Kostum! Saat SD, kan, nggak pernah ada lomba-lomba gini. Semoga Ayah dan Bunda memperbolehkanku menyewa baju daerah,” gumam Arinda riang.
~..~
Malam harinya sebelum tidur, Arinda berjalan menuju kamar orang tuanya untuk membicarakan lomba Parade Kostum dan tentu saja niat untuk menyewa baju daerah. Tapi Arinda mendadak mengurungkan niatnya ketika mendengar percakapan ayah dan bunda di dalam kamar.
“Demam Rizka semakin parah. Besok Bunda akan ke Rumah Sakit, takut ini bukan demam biasa,” begitulah yang diucap bunda.
Arinda terdiam. Arinda yakin uang keluarganya akan digunakan banyak untuk pengobatan Rizka, sehingga pasti ayah dan bunda tidak akan mengizinkannya menyewa baju daerah untuk lomba Parade Kostum. Arinda langsung berjalan kembali ke kamarnya. Walau merasa sedikit kecewa, Arinda berpikir kalau kesehatan Rizka lebih penting daripada lomba Parade Kostum.
~..~
Festival Hari Kartini akan diadakan dua hari lagi. Arinda sendiri memutuskan untuk tidak mengikuti lomba apapun. Arinda hanya mendengarkan teman-temannya bercerita seru tentang lomba yang akan mereka ikuti di Festival Hari Kartini nanti.
“Kau akan ikut lomba apa, Rin?” tanya Firda, salah satu teman dekat Arinda sejak SD.
Arinda menghela napas, “Niatnya, sih, ingin ikut Parade Kostum, tapi nggak jadi.”
“Loh, kenapa?”
“Kau tahu, kan, kondisi keuanganku keluargaku tiga tahun terakhir kayak gimana, belum lagi adikku seminggu ini dirawat di Rumah Sakit karena terkena demam berdarah. Jadinya aku nggak bisa nyewa kostum untuk diikutkan.” Firda mengerutkan keningnya,
“Loh, kata siapa harus nyewa? Aku buat sendiri dari koran, kok.”
Arinda terdiam. Benar juga kata Firda, ia bisa membuat kostum sendiri untuk diikutkan ke lomba Parade Kostum.
“Bagaimana kalau nanti sepulang sekolah, kau ke rumahku untuk membuat kostum,” usul Firda. “Di rumahku ada banyak koran bekas dan Kak Ardi, kakakku, bisa membantu membuatnya. Dia hari ini lagi di rumah karena kuliahnya sedang libur, jadi ia pasti bisa membantuku.”
“Tapi…,” ucapan Arinda menggantung, “memangnya kakakmu mau membantuku?”
“Tentu saja mau! Dia membantuku membuat kostumku juga, kok,” balas Firda. “Aku tunggu nanti di rumahku sepulang sekolah.”
Arinda mengangguk sembari tersenyum, “Terima kasih, ya, Fir.”
Sepulang sekolah, Arinda dan Firda beriringan berjalan menuju rumah Firda yang jaraknya hanya 400 meter dari sekolah. Seminggu ini Arinda memang tidak berjualan bakpau karena bunda sibuk merawat Rizka di Rumah Sakit. Tanpa ba-bi-bu lagi, mereka langsung membuat kostumnya, tentu saja dengan dibantu Kak Ardi. Niatnya, mereka akan membuat kostum merak dari koran. Dua jam berlalu, akhirnya kostum merak itu jadi juga. Arinda mencobanya terlebih dulu, ternyata kostum merak itu walau hanya terbuat dari koran yang dihiasi glitter, indah sekali.
“Sekali lagi, terima kasih, ya, Firda dan Kak Ardi. Maaf jika Arinda merepotkan,” ucap Arinda.
Firda dan Kak Ardi tersenyum hangat, “Nggak merepotkan, kok.”
~..~
Keesokan harinya adalah Hari Kartini. Setelah bersiap di rumahnya, Arinda langsung berjalan kaki menuju rumah Firda untuk mengambil kostumnya. Setelah memakai kostum, ia dan Firda berjalan beriringan menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, mereka mendaftar ulang dulu dan mendapat nomor urutan. Arinda sendiri mendapat nomor 17. Lomba Parade Kostum diadakan di panggung utama dan dilaksanakan pukul 08.00 WIB.
“Semoga kita mendapat hasil terbaik,” doa Firda yang di-aamiin-kan oleh Arinda.
30 menit berlalu, sekarang giliran Arinda untuk maju ke panggung utama untuk memamerkan kostumnya. Arinda berjalan tegak sambil tersenyum lebar, walau dirinya merasa sangat deg-degan.
Tiga jam berlalu, akhirnya waktu pengumuman pemenang seluruh lomba di Hari Kartini telah tiba. Lomba yang pertama diumumkan pemenangnya adalah Parade Kostum. “Poin penilaian lomba Parade Kostum ada tiga. 50 untuk kostum, 30 untuk kreativitas dari kostum, dan 20 untuk gaya saat maju tadi,” MC mulai menjelaskan. “Juara ketiga dengan poin 88 diraih oleh … Arinda Putri dari kelas 7C! Selamat untuk juara ketiga.”
Arinda terlonjak senang. Dengan senyuman lebar, ia maju ke depan untuk mengambil hadiah. Hadiah yang diberikan untuk juara ketiga adalah piala dan uang tunai sebesar Rp350.000. Arinda tersenyum lega. Ia yakin ayah dan bundanya akan sangat bangga pada dirinya. Ia juga berniat untuk memberikan uang ini pada bunda untuk pengobatan Rizka. Sekarang, Arina yakin kalau di setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan apabila kita mau berusaha keras.
Arfan Syarif Prabowo
9 Qatar (absen 4)